Baterai Sodium-Ion Melonjak seiring Meningkatnya Biaya Lithium

8

Industri baterai Tiongkok dengan cepat mempercepat pengembangan dan penerapan teknologi baterai natrium-ion, didorong oleh melonjaknya harga lithium dan dorongan untuk alternatif yang lebih hemat biaya. Pergeseran ini bukan sekedar reaksi terhadap kekuatan pasar; Hal ini merupakan langkah strategis untuk mendiversifikasi rantai pasokan dan mengatasi keterbatasan ketersediaan litium.

Bangkitnya Natrium: Pergeseran Kimia dengan Implikasi Geopolitik

Baterai natrium-ion berfungsi mirip dengan litium-ion, namun menggunakan natrium yang jumlahnya 400 kali lebih banyak di kerak bumi dibandingkan litium. Cadangan litium sangat terkonsentrasi di Amerika Selatan dan Australia, sehingga membuat rantai pasokan rentan terhadap perubahan geopolitik dan volatilitas harga. Sebaliknya, natrium didistribusikan secara luas sehingga mengurangi ketergantungan pada beberapa wilayah utama. Kelimpahan ini berarti potensi stabilitas harga jangka panjang untuk baterai natrium-ion.

Lonjakan Harga Lithium Memicu Transisi

Harga litium karbonat telah melonjak secara dramatis, melebihi 170.000 yuan per ton (kira-kira $23.700 USD) pada awal tahun 2026. Tekanan biaya ini sangat akut terutama pada kendaraan listrik (EV) tingkat pemula, yang sering kali mengandalkan baterai litium besi fosfat (LFP) yang lebih murah. Teknologi natrium-ion menawarkan alternatif yang layak untuk mengurangi kenaikan biaya material ini.

Pemimpin Industri Berinvestasi Besar dalam Produksi Natrium-Ion

Produsen baterai besar Tiongkok sudah mulai meningkatkan produksi ion natrium:

  • CATL: Meluncurkan baterai natrium-ion untuk kendaraan komersial, dengan rencana untuk mengintegrasikannya ke mobil penumpang seperti Aion Y Plus pada kuartal kedua tahun 2026.
  • BYD: Menugaskan lini produksi baterai natrium-ion berkapasitas 30 GWh.
  • EVE Energy: Memulai proyek natrium-ion senilai $144 juta.
  • Teknologi Ronbay: Mengubah beberapa lini produksi baterai litium menjadi bahan natrium-ion.

Pengiriman natrium-ion global mencapai sekitar 9 GWh pada tahun 2025, menandai peningkatan 150% dari tahun sebelumnya, yang menunjukkan daya tarik pasar yang pesat.

Keunggulan Kinerja dalam Kasus Penggunaan Tertentu

Baterai natrium-ion unggul dalam kinerja cuaca dingin, mempertahankan lebih dari 90% kapasitas pada -20°C—dibandingkan dengan sekitar 80% baterai litium standar. Perkiraan biaya menunjukkan bahwa bahan natrium-ion bisa 30–40% lebih murah dibandingkan bahan setara litium. Namun, meningkatkan produksi secara efisien masih merupakan sebuah tantangan.

Keterbatasan Saat Ini: Kepadatan dan Skala Energi

Kepadatan energi ion natrium (100–170 Wh/kg) saat ini tertinggal dibandingkan baterai LFP yang sudah matang (180–200 Wh/kg) dan secara signifikan tertinggal dari baterai litium terner (250–300 Wh/kg). Hal ini membatasi penggunaan langsungnya pada kendaraan listrik jarak tinggi. Koordinasi rantai pasokan dan produksi massal masih dalam tahap pengembangan.

Masa Depan Sodium-Ion: Pelengkap, Bukan Pengganti

Analis memperkirakan baterai natrium-ion pada awalnya akan diadopsi di ceruk tertentu:

  • EV tingkat pemula
  • Aplikasi iklim dingin
  • Penyimpanan energi stasioner

Teknologi ini diharapkan dapat melengkapi baterai berbasis litium, bukan menggantikannya seluruhnya. Tahun 2026 diperkirakan menjadi tahun penting bagi komersialisasi natrium-ion di Tiongkok, seiring dengan percepatan produksi dan biaya yang terus menurun.

Peralihan menuju sodium-ion bukan sekedar mengganti litium secara keseluruhan, namun lebih pada menciptakan rantai pasokan baterai yang lebih tangguh, terdiversifikasi, dan hemat biaya dalam jangka panjang.