Citroen berupaya merebut kembali segmen pasar Eropa yang ramah anggaran dengan city car listrik baru yang terinspirasi oleh model paling legendarisnya: 2CV. Bertujuan untuk memberikan “mobilitas kepada masyarakat”, proyek ini menargetkan titik harga di bawah €15.000 (£13.100), dan memposisikannya sebagai respons langsung terhadap menyusutnya ketersediaan kendaraan yang terjangkau di Eropa.
Konsep baru ini dijadwalkan untuk melakukan debut resminya di Paris Motor Show 2026.
Melampaui Nostalgia: Misi Utilitas
Meskipun mobil ini akan sangat memanfaatkan warisan Citroen yang kaya, kepemimpinannya menekankan fungsi daripada sekadar estetika. CEO Xavier Chardon telah menjelaskan bahwa ini bukan sekadar “reboot retro” demi sentimentalitas.
“Nostalgia demi nostalgia bukanlah obat mujarab,” kata Chardon. “Yang lebih penting adalah memahami tujuan mobil saat itu.”
2CV yang asli adalah alat demokratisasi—kendaraan sederhana dan kokoh yang dirancang untuk mengangkut petani dan barang-barang mereka melintasi pedesaan Prancis. Citroen bermaksud untuk meniru filosofi ini di era modern, menggantikan “petani” dengan profesional perkotaan atau pekerja jasa, memberikan solusi kelistrikan yang dapat diakses oleh pengemudi generasi baru.
Strategi Desain “Neo-Retro”.
Arah desain yang dipimpin oleh Pierre Leclercq mengikuti pendekatan “neo-retro”. Strategi ini baru-baru ini terbukti berhasil bagi para pesaing; Renault 5 yang terlahir kembali telah menarik minat yang besar, mendapatkan 120.000 pesanan.
Daripada membuat parodi dari 2CV asli, tim desain Citroen berfokus pada menerjemahkan nilai-nilai historis merek tersebut—keterjangkauan, kelapangan, kenyamanan, dan efisiensi —ke dalam paket listrik kontemporer. Pertimbangan utama meliputi:
– Integrasi Platform: Mobil dapat menggunakan arsitektur “Mobil Pintar” Citroen, yang sudah mendukung C3 dan Fiat Grande Panda.
– Fitur Khas: Para insinyur sedang menyelidiki apakah struktur tersebut dapat menopang atap kanvas rollback, ciri khas 2CV klasik.
– Posisi Pasar: Kendaraan diharapkan berada di antara sepeda roda empat Ami level awal dan C3 yang lebih besar.
Menavigasi Lansekap EV Eropa
Waktu peluncuran ini sangat strategis, bertepatan dengan perubahan lanskap peraturan di Uni Eropa. Komisi Eropa saat ini sedang menyusun kerangka kerja baru (seperti usulan kategori ‘M1E’) untuk memberi insentif pada produksi kendaraan listrik dalam negeri yang terjangkau.
Langkah ini penting karena “kekosongan EV” yang signifikan telah muncul di pasar. Menurut Chardon, Eropa telah mengalami penurunan besar dalam penjualan mobil baru sejak pandemi ini, terutama karena 60% dari hilangnya permintaan tersebut disebabkan oleh kurangnya mobil listrik dengan harga di bawah €15.000.
Tekanan dan Skala Kompetitif
Perusahaan induk Citroen, Stellantis, berupaya memanfaatkan proyek ini di berbagai merek untuk mencapai skala ekonomi. Hal ini menciptakan lanskap persaingan internal:
– Platform Bersama: Teknologi ini dapat digunakan oleh berbagai merek Stellantis, termasuk Fiat.
– Pasokan Baterai: Untuk menjaga biaya tetap rendah dan memenuhi tujuan manufaktur UE, Stellantis telah menginvestasikan €4,1 miliar dalam usaha patungan Spanyol dengan CATL untuk memproduksi paket baterai pada akhir tahun 2026.
– Tolok Ukur Pasar: Proyek ini menghadapi persaingan ketat dari Twingo EV Renault mendatang, yang diharapkan menawarkan profil serupa dalam skala kecil dan berefisiensi tinggi.
Melihat ke Depan
Jika kerangka peraturan Eropa diselesaikan pada akhir tahun ini, Citroen menargetkan produksi penuh 2CV listrik baru pada 2029.
Kesimpulan: Dengan menggabungkan identitas merek historis dengan fokus ketat pada mobilitas listrik berbiaya rendah, Citroen berupaya mengisi kesenjangan kritis di pasar Eropa dan menyediakan titik masuk yang terjangkau bagi gelombang pengguna kendaraan listrik berikutnya.




























