Transisi Kendaraan Listrik: Realitas Mengikuti Kebijakan

15

Dorongan ambisius untuk menghilangkan mobil berbahan bakar bensin dan diesel pada tahun 2035 di Eropa, dan bahkan lebih awal lagi di Inggris (pada tahun 2030), menghadapi hambatan yang signifikan. Pergeseran politik baru-baru ini, terutama pencabutan larangan Uni Eropa pada tahun 2035, menandakan semakin besarnya kesadaran bahwa transisi penuh ke kendaraan listrik (EV) tidak mungkin dilakukan untuk semua pengemudi dalam waktu dekat.

Isu intinya bukanlah kemampuan teknologi, namun realitas praktis. Mobil listrik murni tetap tidak dapat diakses atau tidak cocok untuk sebagian besar masyarakat. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang tinggal di apartemen atau daerah padat penduduk yang tidak memiliki infrastruktur pengisian daya pribadi. Stasiun pengisian umum, meskipun tersedia, sering kali memiliki harga yang sangat tinggi dan tidak jelas, sehingga melemahkan janji penghematan biaya dari kendaraan listrik. Bahkan penyedia energi pun melakukan penyesuaian tarif di luar jam sibuk, sehingga semakin mengikis insentif finansial.

Kendaraan hibrida, khususnya hibrida plug-in, saat ini menawarkan kompromi yang paling memungkinkan. Mereka menjembatani kesenjangan antara mesin pembakaran tradisional dan elektrifikasi penuh, memberikan fleksibilitas dan keterjangkauan. Banyak pengemudi, terutama mereka yang menghargai kesederhanaan atau menentang mandat pemerintah, akan terus memilih mobil bermesin pembakaran internal (ICE) tradisional.

Desakan Inggris untuk mempertahankan larangannya pada tahun 2030, sementara UE menunda hingga setidaknya tahun 2040, menciptakan situasi yang aneh. Konsumen Inggris mungkin semakin beralih ke dealer di daratan Eropa untuk membeli kendaraan ICE, untuk menghindari pembatasan domestik.

Lanskap politik sedang berubah, menyadari bahwa memaksakan transisi sebelum infrastruktur dan keterjangkauan selaras hanya akan membuat konsumen frustrasi dan menciptakan celah yang tidak diinginkan.

Keputusan UE untuk menunda larangan tersebut menegaskan apa yang sudah lama diduga banyak orang: peralihan total dan segera ke kendaraan listrik adalah hal yang tidak realistis. Hal ini tidak berarti kendaraan listrik akan hilang, namun laju adopsi harus selaras dengan kebutuhan konsumen dan kendala praktis. Pasar, bukan kebijakan, yang pada akhirnya akan menentukan kecepatan perubahan.